Insidious: The Last Key (2018)

Diposting pada

Directed By: Adam Robitel

Cast: Lin Shaye, Leigh Whannell, Angus Sampson, Kirk Aceveda, Caitlin Gerard, Spencer Locke, Josh Stewart, Teresa Ferrer, Ava Kolker, Pierce Pope, Bruce Davison

Synopsis:

Elise Reinier (Lin Shaye) mendapat telepon dari seseorang yang mengaku mendapatkan problem mahluk halus di rumahnya. Ternyata rumah tersebut adalah rumah di mana Elise tumbuh sejak kecil bersama dengan adik dan ayahnya yang kasar dan suka menyiksa. Kali ini Elise mau tidak rela harus menghadapi lagi kekuatan jahat yang sempat membunuh ibunya dan mengakibatkan ayahnya gemar menyiksa.

Review:

Pada th. 2011, sebuah film horor yang dapat menjadi trendsetter baru dalam dunia perfilman horor dirilis. Selain mengembalikan genre horor klasik, film ini termasuk mendudukkan sang sutradara, James Wan, menjadi salah satu nama yang cukup diperhitungkan di genre tersebut. Kehadiran film Insidious- yang diteruskan dengan The Conjuring- membuat peta perfilman horor makin lama bergeser. Dari yang tadinya booming dengan film Slasher, found footage, ataupun phsycological thriller, kini pendekatan yang digunakan adalah pendekatan film horor klasik. Di mana lebih mengedepankan kepada letak kamera, lighting, serta musik yang depressing.

Lihat Juga: Nonton Film

Dan seperti halnya film- film horor jenius lainnya, Insidious pun mendapatkan jilid- jilid penerus, yang sayangnya makin lama hari makin lama mengalami penurunan kualitasnya. Hal ini diakibatkan bersama dengan cerita yang condong dipaksakan. Bukannya untuk spoiler, dan saya rasa yang baca review ini sudah nonton film pertamanya. Di film pertama cerita terfokus kepada keluarga Lambert dengan karakter Elise Rainier sebagai peran pembantu yang menolong keluarga malang tersebut untuk melepaskan problem gaib dari roh jahat. Dan di akhir kisahpun, Elise diceritakan mati. Mungkin ini merupakan salah satu kesalahan. Mungkin termasuk awalnya tidak dapat terpikirkan terkecuali film ini dapat jadi sebuah kuda hitam yang memiliki kesuksesan besar. Di film kedua, naskah masih bagus bersama dengan meneruskan kisah di mana film pertama berakhir. Dan karakter Elise (yang merupakan scene stealer di film pertama tak sekedar setan yang mirip Darth Maul) dan dua asistennya (kalau ini harus muncul, gara-gara salah satunya diperankan oleh Leigh Whannell…. kenapa? Karena dia yang nulis naskah) masih dimunculkan bersama dengan kronologis yang tidak dipaksakan.

Nah di film ketiga baru situasi memaksakan itu makin lama terasa. Menyadari tidak memungkinkannya film dilanjutkan sebagai sebuah sekuel, film ketigapun dibuatkan sebagai prekuel. Dengan karakter Elise menangani persoalan sebelum persoalan keluarga Lambert. Untungnya Whannell masih bisa menggunakan metode time travel sehingga masih ada nyambung- nyambungnya lah bersama dengan film pertama. Di film keempat ini begitu juga. Karena harus ada film keempat, jadi rela tidak rela film ini dijadikan sebuah prekuel lagi. Secara skenario, terkecuali jadi sebuah film tersendiri, sebetulnya cukup baik. Insidious: The Last Key memberikan twist berlapis yang pastinya dapat memuaskan penggemar twist.

Adegan horornya cukup cukup menegangkan, meski terkecuali dibandingkan bersama dengan pendahulunya mengalami penurunan. Whannell di sini cukup jeli mengeksplor potensi duet karakter Specs dan Tucker yang bisa jadi faktor komedi yang bisa mengakibatkan penonton tenang di tengah ketakutan. Menyadari termasuk bahwa franchie ini masih berpotensi jadi mesin pencetak uang, namun usia Lin Shaye sudah benar-benar tua, Whannell pun di sini buat persiapan dua karakter keponakan Elise, yang dideskripsikan salah satunya memiliki “bakat” yang mirip bersama dengan tantenya. Jadi setidaknya karakter Imogen (Caitlin Gerard) dan Melissa (Spencer Locke) bisa melanjutkan tongkat estafet terkecuali nantinya diputuskan untuk dibuat jilid berikutnya.

Terlepas dari skenario yang condong dipaksakan, Insidious: The Last Key bisa jadi tontonan yang cukup menarik. Apalagi bagi yang berharap adegan- adegan seram. Dan penonton- penonton aneh lainnya, yang bayar tiket film horor namun selama film cuma tutup mata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *