BALANCED SCORECARD – dari Performance Measurement hingga Strategy-focused Organization

Diposting pada

Konsultan BSC – The Balanced Scorecard (BSC) sudah merubah kinerja banyak perusahaan di seluruh penjuru dunia. Sejak 1992, proses manajemen kinerja ini sudah menopang banyak manajemen puncak menentukan target dan langkah perusahaan dan menerjemahkannya secara konkret ke dalam suatu set langkah pengukuran. Apa yang sudah membuatnya begitu berhasil adalah bahwa BSC mampu menerjemahkan langkah ke dalam sebuah proses yang bukan hanya menjadi punya manajemen puncak, tapi termasuk setiap individu pada setiap level di dalam perusahaan. Setiap pegawai megetahui bukan hanya “apa” yang perlu dilakukannya, tapi termasuk “mengapa” dia laksanakan itu. Namun yang lebih penting kembali adalah bahwa BSC tidak melulu lihat langkah dalam kaitan aspek finansial semata, tapi termasuk aspek tiga “tambahan” lain yaitu: 1) jalinan dengan pelanggan, 2) proses internal, serta 3) pembelajaran dan pertumbuhan.

Banyak pihak percaya, bahwa ketiga aspek tambahan selanjutnya bukanlah hal yang sangat baru. Namun sebagai sebuah kerangka pemikiran, dunia perlu mengakui bahwa Robert S. Kaplan, seorang profesor akunting pada Harvard Business Shool, beserta David P. Norton, seorang konsultan teknologi informasi, yang sudah berjasa merumuskan konsep kesimpulan selanjutnya agar menjadi sebuah proses yang mampu menjadi acuan bagi perusahaan-perusahaan yang mendambakan menerapkan proses ini secara sistematis.

Konsep itu sendiri merupakan kesimpulan yang tidak statis dan tidak pula berbentuk sekali-jadi. Sejak pertama kali keluar dalam artikel di Harvard Business Review pada edisi Januari-Februari 1992, Kaplan dan Norton secara evolutif berdasarkan bukti-butkri empirik berasal dari pengalaman-pengalaman perusahaan-perusahaan yang disurvey dalam penerapan konsep ini, sudah memoles dan mempertajam konsep ini berasal dari th. ke th. hingga yang mutakhir konsep ini semakin lengkap dengan konsep Strategy-focused Organisation (SFO). Tulisan ini berusaha memotret dan mengintegrasikan evolusi kesimpulan Kaplan dan Norton selanjutnya berasal dari sumbernya yang asli, yaitu artikel-artikel dan buku-buku yang ditulis oleh mereka berdua perihal dengan BSC.

KONSEP BSC

BSC sebagai Sistem Pengukuran yang Mengarahkan Kinerja
Kaplan dan Norton (1992) menyebutkan kepada para eksekutif senior: “What you measure is what you get“. Secara singkat ungkapan selanjutnya dambakan menyebutkan bahwa proses pengukuran kinerja nyata-nyata akan merubah kinerja dan perilaku individu-individu di di dalam perusahaan. Masalahnya, perspektif apa saja yang harus diperhatikan di dalam pengukuran kinerja? Ketika awal masa industrialisasi, secara tradisional orang terasa memadai bersama dengan ukuran-ukuran akuntansi keuangan seperti return on investment (ROI) atau earnings per sharing (EPS). Namun pengukuran perspektif keuangan saja ternyata tidak memuaskan. Orang juga terasa perlu informasi yang perihal bersama dengan kinerja operasional. Bahkan ada lebih dari satu orang yang menyebutkan “Lupakan saja pengukuran perspektif keuangan. Fokuskan upaya terhadap perbaikan operasional seperti siklus kala dan tingkat rusaknya produk. Pada selanjutnya ini akan berdampak juga terhadap perspektif finansial.”

Jelas bahwa pengukuran tunggal tidak lagi mencukupi. Ibarat seorang sopir yang tengah mengendarai mobil, tidak memadai bersama dengan dashboard yang hanya membuktikan pengukuran bahan bakar. Dia juga perlu petunjuk pengukuran kecepatan, temperatur mesin, putaran mesin, dan sebagainya. Inilah yang lantas melatarbelakangi Kaplan dan Norton merumuskan rencana pengukuran kinerja yang dinamakan The Balanced Scorecard (BSC). Keseimbangan (balanced) di sini menunjuk terhadap terdapatnya kesetimbangan terhadap perspektif-perspektif yang akan diukur, yakni antara perspektif keuangan dan perspektif nonkeuangan sebagai berikut:

1. Perspektif pelanggan, yakni untuk menjawab pertanyaan bagaimana costumer lihat perusahaan.
2. Perspektif internal, untuk menjawab pertanyaan terhadap bidang apa perusahaan miliki keahlian.
3. Perspektif inovasi dan pembelajaran, untuk menjawab pertanyaan apakah perusahaan dapat berkesinambungan dan menciptakan value.
4. Perspektif keuangan, untuk menjawab pertanyaan bagaimana perusahaan lihat pemegang saham.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *